Kisah Anak Durhaka

Ibu adalah sosok orang yang telah melahirkan kita ke dunia ini atas izin Allah. Oleh sebab itu, kita diwajibkan berbakti kepadanya, karena dengan susah payah dan mempertaruhkan nyawanya dalam melahirkan kita. Dan dgn perjuangan pula utk membesarkan kita hingga kita beranjak dewasa.

Banyak perjuangan yg harus ditempuhnya untuk memenuhi kebutuhan kita. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang, ilmu agama dan kebutuhan-kebutuhan umum lainnya. Kalaulah orang tua kita tergolong keluarga yg berada atau keluarga yg mampu, mungkin tdk terlalu menderita untuk membiayai kebutuhan kita. Tapi seandainya orangtua kita tergolong keluarga yg tidak mampu, alangkah menderitanya mereka.
Jangankan untuk membeli pakaian dan kebutuhan lainnya, untuk makan sehari-hari saja susah.

Tapi itulah orangtua, dgn rasa tegar dan tanggung jawabnya Dia rela berjuang.
Kadang2 dia harus menahan rasa lapar demi untuk kepentingan anaknya.

Adakah kita ingat kepada ibu kita ketika kita memakan makanan yg enak-enak..?
Dan juga adakah kita ingat, apakah ibu kita sudah makan atau belum?.

Tapi lain halnya dgn ibu kita, ketika dia memakan makanan yang diantarkan oleh tetanggapun, dia akan tetap ingat kepada anaknya, dan sedapat mungkin dia akan menyisihkan makanan yg ia makan utk kita. Itulah kasih sayang seorang ibu terhadap
anaknya.

Jadi janganlah kita berkata kasar apalagi melawan sehingga menyakiti hati ibu kita. Apakah kita mau di bilang sbg anak yang durhaka?

Ingat, “Ridhonya Allah atas ridhonya Ibu kita”.

Ada suatu kisah pada zaman Rhosulullah. Seorang anak yg durhaka kpd ibunya.

Begini ceritanya:
Ada seorang manusia yg bernama Alqomah. Dia adalah orang yang taat dalam beribadah, seperti: Sholat, puasa, zakat dan rajin pula bersodakoh.

Pada suatu hari, dia jatuh sakit, boleh dibilang termasuk sakit keras. Sakitnya itu sepertinya mau menemui ajalnya, tapi tak bisa-bisa. Sang istri merasa gelisah dan pergilah dia menjumpai Rosulullah.
Setelah berjumpa dgn Rosulullah, lalu dia berkata;
“ya Rosulullah, suami saya dalam keadaan sakit keras. Sudah berhari-hari kami berusaha utk kesembuhannya, tapi tak juga sembuh2. Saya sangat sedih dan kasihan kpdnya ya Rosulullah”.
Mendengar ucapan wanita itu, Rosulullah merasa iba, dan Beliau mengutus sahabatnya Bilal, Shuhaib dan Ammar utk datang menjenguk Alqomah.

Sesampainya disana, para sahabat melihat Alqomah sepertinya dlm keadaan koma. Kemudian sahabat menuntun membisikkan kalimah syahadat ke telinga Alqomah. Tapi tiada reaksi apa-apa, karena mulutnya tertutup dan terkunci.

Kemudian para sahabat menjumpai Rosulullah dan menceritakan keadaan Alqomah. Dan akhirnya Rosulullah datang kerumah Alqomah. Melihat keadaan Alqomah seperti itu. Rosulullah bertanya kepada istri Alqomah, “Apakah Alqomah mempunyai orangtua?” kata Rosulullah. “Ada ya Rosulullah, tapi hanya ibunya saja yg sudah tua renta” kata istri Alqomah.
“suruh dia datang utk menemui anaknya yg dlm keadaan sakit ini” kata Rosulullah.

Kemudian dijemputlah ibu Alqomah. Setelah sampai di rumah, Rosulullah bertanya kpd ibu Alqomah, “Apakah Alqomah ada punya kesalahan terhaadap ibu, sehingga keadaannya menjadi seperti ini?” kata Rosulullah. “Ada ya Rosulullah. Dia selalu menyakiti hatiku, dan dia tak pernah menperdulikan aku, dan dia lebih mendengar kata-kata istrinya sehingga
melupakan aku sbg ibu yg telah melahirkannya”. kata ibu Alqomah dengan isak tangisnya. “Akibat dari kemarahan sang ibu, membuat Alqomah tak bisa melafaskan kalimah Syahadat dan susah utk menghadap syakrotulmaut. Apakah ibu mau mema’afkannya?” kata Rosulullah. “Biarlah ya Rosulullah, biarkanlah dia merasakan akibat dari perbuatannya yg telah
menyakitkan hatiku.”
Kata ibu Alqomah.

Kemudian Rosulullah memerintahkan sahabatnya mencari kayu bakar utk membakar Alqomah.

Mendengar perkataan Rosulullah, maka ibu Alqomah memohon kepada Rosulullah supaya membantalkan niatnya untuk membakar Alqomah. Karena dia tdk sanggup melihat anaknya di bakar di
depan matanya. Dan dia akan mengampunkan dan mema’afkan segala
kesalahan2 anaknya
kepada dirinya. Dan dia berdoa agar anaknya Alqomah bisa meninggal dgn tenang dan arwahnya serta amal ibadahnya diterima oleh Allah swt.

Setelah ibunya memaafkan dan mengampunkan kesalahan serta mendoakan Alqomah, maka Alqomahpun menghembuskan nafasnya yg terakhir dan meninggal dalam keadaan tenang.

Dari kisah di atas, bisa kita simpulkan, betapa besarnya dosa, kalau kita melawan terhadap ibu kita, sehingga Allah pun tdk bisa memaafkan dosa-dosa yang telah kita perbuat terhadap ibu kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: